Tampilkan postingan dengan label yesica. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yesica. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2013

Penyuluhan mengenai penyakit zoonosis dapat yang ditularkan melalui lingkungan yang tidak bersih

Istilah zoonosis telah dikenal untuk menggambarkan suatu kejadian penyakit infeksi pada manusia yang ditularkan dari hewan vertebrata. Hal inilah yang dewasa ini menjadi sorotan publik dan menjadi objek berbagai studi untuk mengkaji segala aspek yang berkaitan dengan wabah tersebut yang diharapkan nantinya akan diperoleh suatu sistem terpadu untuk pemberantasan dan penanggulangannya.    Penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus misalnya penyakit mulut dan kuku pada sapi,  influenza pada unggas dan babi, dan rabies pada anjing, kucing, dan kera. Untuk penyakit mulut dan kuku pada sapi disebabkan oleh virus dari familia Picornaviridae. Jika manusia mengkonsumsi daging sapi yang terkena penyakit ini dapat mengakibatkan luka-luka koreng di tubuhnya yang nantinya akan mengakibatkan kelumpuhan dan bahkan kematian.

Sosialisasi Penyakit Zoonosis

Pembagian Pamflet

Bakteri penyebab Leptosirosis yaitu bakteri Leptospira sp. Leptospira bertahan dalam waktu yang lama di dalam ginjal hewan sehingga bakteri akan banyak dikeluarkan hewan lewat air kencingnya. Leptospirosis pada hewan dapat terjadi berbulan-bulan sedangkan pada manusia hanya bertahan selama 60 hari. Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air.  Kemampuan Leptospira untuk bergerak dengan cepat dalam  air menjadi salah satu faktor penentu utama ia dapat menginfeksi induk semang (host) yang baru. Hujan deras akan membantu penyebaran penyakit ini, terutama di daerah banjir. Di Indonesia, penularan paling sering terjadi melalui tikus pada kondisi banjir. Keadaan banjir menyebabkan adanya perubahan lingkungan seperti banyaknya genangan air, lingkungan menjadi becek, berlumpur, serta banyak timbunan sampah yang menyebabkan mudahnya bakteri Leptospira berkembang biak. 

Kegiatan ini  bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Bantul dalam hal penyediaan pamflet mengenai zoonosis. Mahasiswa KKN PPM UGM Subunit Pedes mendapatkan bantuan berupa 20 lembar pamflet mengenai zoonosis dari Dinas Pertanian Kabupaten Bantul yang akan dibagikan  ke warga Dusun Pedes.  Pengambilan  pamflet dilakukan pada tanggal  22 Juli 2013  di  Dinas Pertanian Kabupaten Bantul.  Prosedur pembagian ke masyarakat disebarkan bersamaan dengan pamflet daging ASUH baik secara personal maupun lewat arisan ibu-ibu RT. Antusiasme warga terhadap program ini cukup baik, yang ditandai dengan banyaknya ibu-bu yang lansung menyimpan pamflet dan antusias melakukan tanya jawab dengan mahasiswa KKN PPM UGM.

Tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan program ini. Semua pihak sangat mendukung terlaksananya program ini. 

(YESICA NOVRIANI PURBA, S.K.H. - 12/341704/KH/7591)

Pemberian obat cacing pada hewan ternak besar di Dusun Pedes

Penyakit yang disebabkan oleh cacing merupakan kejadian yang cukup sering menyerang ternak sapi. Penyakit yang cukup sering menyerang sapi muda (pedet) dan biasanya terjadi pada musim hujan atau dalam kondisi lingkungan yang basah atau lembab ini umumnya disebabkan oleh cara pemeliharaan yang kurang diperhatikan sehingga infeksi yang parah dapat menyebabkan tingkat kematian yang cukup tinggi. Pada peternakan rakyat dengan sistem pemeliharaan yang masih bersifat tradisional yakni dengan membiarkan ternaknya mencari pakan sendiri meskipun pada lingkungan yang disinyalir telah terkontaminasi dengan cacing akan lebih memudahkan ternak terinfestasi cacing ketimbang sapi yang dipelihara dengan sentuhan pemeliharaan modern.
Pengemasan Obat Cacing Serbuk ke Dalam Plastik

Pemberian Obat Cacing pada Sapi

Walaupun penyakit cacingan tidak langsung menyebabkan kematian, namun secara ekonomi dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar. Oleh karena itu tidak heran kalau penyakit cacingan ini sering disebut sebagai penyakit ekonomi. Ternyata cukup banyak, mulai dari penurunan berat badan, terhambatnya pertumbuhan pada sapi muda, penurunan kualitas daging, kulit dan jeroan pada ternak potong, penurunan produksi susu pada ternak perah dan bahaya penularan pada manusia.  Sebagian besar masyarakat di Pedes belum mengetahui pentingnya pemberian obat cacing kepada ternak. Dengan adanya program pemberian obat cacing, diharapkan pertumbuhan sapi menjadi lebih cepat dan gemuk.

Program pemberian obat cacing  ini berlansung berkat kerjasama antara KKN PPM UGM Subunit Pedes dengan pihak Dinas Pertanian Kabupaten Bantul  dan Poskeswan Pajangan, Bantul. Mahasiswa KKN PPM Subunit  Pedes menerima bantuan berupa 3.000 gram obat cacing LMS 200. Pengambilan desinfektan dilakukan pada tanggal 22 Juli 2013di Dinas Pertanian Kabupaten Bantul dengan bantuan staf dari Poskeswan Pajangan. Persiapan meliputi pengemasan obat cacing ke dalam plastic sheet, dibedakan menjadi 3 kategori: sapi dewasa (1), anak sapi/pedet (2), dan kambing/domba (3). Khusus untuk obat cacing cair, lansung diberikan kepada hewan ternak dengan menggunakan spuit. Penyebaran obat cacing dilakukan dengan cara mengunjungi rumah warga yang memiliki ternak. Program ini dirasa cukup berhasil, terlihat dari antusiasme warga dalam menyambut dan bertanya jawab dengan mahasiswa KKN PPM UGM.

Program  ini terhambat oleh jumlah ternak yang banyak, peternak yang sedang tidak ada di rumah (sibuk bertani dan mencari makan untuk ternaknya) serta wilayah dusun yang sangat luas.

(YESICA NOVRIANI PURBA, S.K.H. - 12/341704/KH/7591)

Program desinfeksi terhadap kandang ayam

Disinfektan siap Dibagikan

Pengepakan Disinfektan
Avian Influenza atau yang sering disebut dengan Flu Burung merupakan salah satu penyakit utama unggas yang sering menyerang unggas dan dapat menyebar ke manusia dan mengakibatkan kematian. AI juga salah satu penyakit yang sedang berusaha diberantas oleh Pemerintah Indonesia akibat efeknya yang sangat merugikan baik untuk peternak maupun masyarakat.  Untuk mendapatkan kesuksesan dalam beternak ayam, salah satu yang memegang peranan penting adalah dalam hal biosecuritynya. Dan untuk kesuksesan biosecurity itu sendiri dibutuhkan beberapa tahapan yang harus diperhatikan. Tahap paling penting dari biosecurity unggas adalah program pembersihan dan desinfeksi kandang ayam yang dilakukan secara efektif. Tujuan utamanya adalah untuk menurunkan bakteri pathogen (agen penyebab penyakit di lapangan).  Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan masyarakat Dusun Pedes, sebagian besar masyarakat memiliki ayam dan ada keluhan dari warga mengenai banyaknya ayam yang mati akibat sakit. Hal itulah yang mendorong saya untuk memilih desinfeksi kandang ayam sebagai salah satu program.  Diharapkan dengan adanya program desinfeksi kandang ayam  ini, jumlah ayam yang sakit dapat menurun serta kebersihan kandang dapat lebih terjaga.

Program desinfeksi kandang ayam ini berlansung berkat kerjasama antara KKN PPM UGM Subunit Pedes dengan pihak Dinas Pertanian Kabupaten Bantul. Mahasiswa KKN PPM  Subunit Pedes menerima bantuan berupa 1 liter desinfektan dari Dinas Pertanian Bantul. Pengambilan desinfektan dilakukan pada tanggal 30 Juli 2013. Persiapan pelaksanaan program berupa pembelian botol plastik dengan ukuran 30 ml, desinfektan lalu dikemas kedalam botol. Desinfektan lalu dibagikan ke masyarakat dengan cara  door-to-door mulai tanggal 20 Agustus sampai 22  Agustus 2013.  Setiap pemilik ayam diberikan desinfektan sesuai jumlah kandang yang dimiliki dan diberi penjelasan mengenai cara pemakaiannya. Di beberapa RT, desinfektan dititipkan ke ketua RT karena jumlah warga yang memiliki ayam sulit diperkirakan. Secara garis besar program ini dirasa cukup berhasil, terlihat dari antusiasme warga dalam bertanya dan menyampaikan keinginan untuk segera memakainya.

Kurangnya pendataan mengenai jumlah ternak ayam yang ada di masing-masing RT sebelum pendistribusian terlaksana menyebabkan pendistribusian kurang merata.

(YESICA NOVRIANI PURBA, S.K.H. - 12/341704/KH/7591)

Pengenalan berbagai macam hewan kepada PAUD

Perburuan satwa yang dillindungi untuk dijual atau diambil kulit maupun dagingnya, punahnya satwa langka dan eksotis, pengerusakan habitat asli hewan liar merupakan salah satu permasalahan yang selalu diangkat oleh dunia. Melihat hal ini, saya membuat program pengenalan berbagai macam hewan kepada  PAUD.  Dengan adanya pengenalan berbagai jenis satwa kepada anak-anak usia dini (PAUD) diharapkan dapat menambah pengetahuan baru dan menumbuhkan rasa sayang dan keinginan untuk menjaga satwa dan melestarikan lingkungan. 


Program pengenalan hewan ini berlansung berkat kerjasama antara KKN PPM UGM Subunit Pedes dengan pihak pengajar PAUD Setyarini Pedes. Kegiatan pengenalan satwa dilaksanakan secara bertahap di gedung PAUD Setyarini Pedes. Tahap pertama adalah pengenalan hewan secara personal dengan anak-anak PAUD selama seminggu melalui mainan berbentuk hewan dan poster-poster binatang. Tahap kedua berupa pelaksanaan panggung boneka dengan tema “Bertamasya ke Kebun Binatang” dengan menggunakan boneka tangan berbentuk hewan dan manusia. Melalui panggung boneka, anak-anak diberi pengetahuan mengenai jenis hewan, cirri-ciri, makanan serta habitatnya. Di akhir panggung boneka, anak-anak diajarkan lagu tentang binatang.  Secara garis besar program ini dirasa cukup berhasil, dapat dilihat dari antusias anak-anak PAUD dalam menonton panggung boneka.

Tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan program ini. Semua pihak sangat mendukung terlaksananya program ini.

(YESICA NOVRIANI PURBA, S.K.H. - 12/341704/KH/7591)

Penyuluhan mengenai bahan pangan yang ASUH

.Pada masa sekarang ini, di saat harga bahan pokok terutama daging mengalami kenaikan, banyak ditemukan adanya daging ayam tiren, daging sapi glonggongan dan ada juga penjual nakal yang menjual daging sapi yang dicampur dengan daging babi.  Penyediaan daging untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap protein hewani yang  terus meningkat khususnya di pasar tradisional hingga saat ini belum banyak mendapat perhatian sehingga aspek kualitas daging cenderung terabaikan. Padahal situasi pasar tradisonal dengan segala kegiatan dan kondisi lingkungannya justru memiliki potensi kontaminasi yang tinggi terhadap daging yang dijajakan. Oleh sebab itu, perlu adanya sosialisasi mengenai bahan pangan yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh, Halal) agar masyarakat dapat terhindar dari kecurangan yang dilakukan penjual, dan agar kesehatan masyarakat tetap terjaga

  Kegiatan ini bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Bantul dalam hal penyediaan pamflet mengenai daging ASUH. Mahasiswa KKN PPM UGM Subunit Pedes mendapatkan bantuan berupa 20 lembar  pamflet  mengenai daging ASUH dari Dinas Pertanian Kabupaten Bantul yang akan dibagikan ke ibu-ibu warga Dusun Pedes. Pengambilan  pamflet  dilakukan pada tanggal  22 Juli 2013  di Dinas Pertanian Kabupaten Bantul. Prosedur pembagian ke masyarakat disebarkan baik secara personal maupun lewat arisan ibu-ibu per-RT. Antusiasme warga terhadap program ini cukup baik, yang ditandai dengan banyaknya ibu-bu yang lansung menyimpan pamflet dan antusias melakukan tanya jawab dengan mahasiswa KKN PPM UGM.

     Kendala yang dihadapi dalam program ini adalah  terbatasnya jumlah pamflet yang dimiliki sehingga harus diperbanyak dengan mesin fotocopy. Padahal ibu-ibu sebaiknya diberikan pamflet berwarna agar dapat membedakan bahan pangan melalui gambar.

(YESICA NOVRIANI PURBA, S.K.H. - 12/341704/KH/7591)

Sosialisasi dan workshop mengenai proses pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk kompos.

Dalam bidang pertanian, tanah mempunyai arti yang sangat penting dilihat dari kemampuannya untuk menyediakan unsur hara/makanan bagi tanaman dengan jumlah yang tepat sehingga  dapat menghasilkan produk yang optimum.  Kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia, dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif bagi tanaman.  Untuk memperoleh  produktivitas yang tinggi pada pertanian tidak hanya dibutuhkan kesuburan tanah tetapi bagaimana seorang petani mampu mengolah lahannya dan mengatur ketersediaan unsur hara yang ada.

Salah satu cara untuk menjaga kesuburan tanah adalah dengan melakukan pemupukan. Pemupukan adalah pemberian bahan kepada tanah untuk memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah, serta mengganti kehilangan unsur hara dari dalam tanah dengan tujuan mendapatkan produktivitas pertanian yang maksimal. Di masa sekarang ini banyak petani yang menggunakan pupuk anorganik karena kepraktisannya. Mereka belum banyak menyadari bahwa pupuk anorganik justru bisa menurunkan kualitas tanah dan produktivitasnya di masa mendatang jika pemakaiannya berlebihan. Selain itu masalah lain dari pupuk  anorganik adalah harganya yang relatif mahal,   serta ketersediaannya yang kadang menyulitkan petani hingga terjadi kelangkaan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengubahan pola penggunaan pupuk anorganik dengan pupuk organik, salah satunya yaitu dengan menggunakan kompos.
Pendataan Ternak

Pelatihan Pembuatan Kompos

Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Kompos sendiri dapat dibuat dari bahan-bahan organik seperti kotoran ternak baik kotoran sapi, kambing, ayam, kuda, kerbau dan sebagainya,   sisa-sisa pertanian seperti hasil pangksasn sisa tanaman (tanaman kacang-kacangan/legum), jerami padi, sampah kota, sampah rumah tangga, sampah pasar, hijau-hijauan, dan limbah industri.

Kotoran sapi maupun kotoran kambing merupakan bahan yang mempunyai kandungan unsur hara lengkap dengan proporsi yang berbeda dan saling melengkapi satu sama lain. Selain mengandung unsur-unsur makro (Nitrogen, Fosfor, Kalium) juga mengandung unsur-unsur mikro (kalium, Magnesium, serta sejumlah kecil mangan, tembaga, borium dll) yang dapat menyediakan unsur-unsur atau zat makanan bagi kepentingan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.Selain itu, pupuk kompos dari bahan kotoran sapi dan kotoran kambing memiliki kelebihan yaitu memperbaiki sifat fisik, kimia, serta biologi tanah, menaikkan daya serap tanah terhadap air, menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah serta sebagai sumber zat makanan bagi tanaman. Berdasarkan hasil observasi, terlihat kotoran sapi masih banyak yang belum diolah, bahkan menumpuk di dalam kandang. Kondisi seperti itu akan mempengaruhi kesehatan ternak dan peternak yg biasa memelihara sapi di sebelah rumahnya. Hal inilah  yang mendorong saya untuk membuat program pemamfaatan kotoran ternak men jadi kompos.

  Kegiatan ini bekerjasama dengan P.T. Pertamina, dimana P.T. Pertamina menyediakan alat serta fasilitator untuk pelatihan pembuatan kompos.  Program diawali dengan kerja bakti sekaligus pengecekan kompos yang telah dibuat di salah satu RT dengan bahan sisa-sisa limbah rumah tangga. Sensus ternak dilakukan untuk mengetahui jumlah sapi yang bisa dijadikan sebagai sumber utama bahan pembuatan kompos.  Workshop dan pelatihan pembuatan kompos dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2013, dengan menggunakan fasilitator yang telah disiapkan oleh P.T. Pertamina. Program ini dirasa cukup berhasil, karena terlihat antusiasme warga dalam pelatihan pembuatan kompos.

    Kurangnya komunikasi dengan pihak P.T. Pertamina sebagai mitra, sehingga menyebabkan kurang sinkronisasi program dengan pihak Mahasiswa KKN PPM UGM. Banyak masyarakat yang pesimis akan program kompos karena sebelumnya ada pihak dari luar yang telah melaksanakan program yang sama, dan meninggalkan kesan yang tidak baik. Hal ini membuat motivasi dan semangat warga berkurang.

(YESICA NOVRIANI PURBA, S.K.H. - 12/341704/KH/7591)